Minggu, 02 September 2012

25 Kolom sang Mantan Presiden (Kritis, Analitis dan Berani)

Oleh: Ayub Al Ansori *)
 Judul Buku      : Membaca Sejarah Nusantara (25 kolom Sejarah Gus Dur)
Penulis             : Abdurrohman Wahid
Penerbit           : LKiS Yogyakarta
Tebal               : xx + 134 halaman; 12 x 18 cm
Cetakan           : I / Januari 2010

Humanis sekaligus pluralis. Ketika mendengar kata ini kita seakan dekat dengan sosok yang selalu memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Sehingga pantas ketika Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pidato kenegaraanya,  menjulukinya sebagai “Bapak Pluralisme”. Sosok yang selalu tampil percaya diri dan tidak terlalu cinta akan kedudukan. Seperti ditulis K.H. Mustofa Bisri, “Dia bisa dengan mudah mendapat kedudukan tanpa harus “menyayangi’ (merasa eman terhadap) kedudukan itu”.  Tak seperti pejabat yang mengandalkan kedudukannya sebagai “Tuhan” (sebagai ladang pendapatan). Pantas, jika banyak pejabat frustasi dan bahkan bunuh diri dengan membawa frustasinya hanya karena tidak mendapatkan kedudukan yang diharapkannya. 
            Gus Dur, K.H. Abdurrahman Wahid Almaghfurlah, tidak tampak tergoncang sedikit pun ketika dipaksa lengser tak seperti diperkirakan orang sebelumnya. Selepas lengser itulah, dengan kemampuan, kelebihan dan kepercayaan dirinya, tokoh paling kontroversial ini, meneruskan perjalanan hidupnya seperti biasa. Begitu lengser Gus Dur langsung kembali muter-muter, bershilaturahmi ke sana ke mari dan menerima tamu siapa saja yang memerlukannya. Dalam jangka waktu yang cepat  -terhitung sejak lengsernya dari kursi kepresidenan- banyak artikel-artikel dalam berbagai tema, telah ditulisnya. “Tidak kurang dari 54 artikel, dalam berbagai tema, telah ditulisnya” Gus Mus menulis.
            Buku yang diberi judul “Membaca Sejarah Nusantara” ini merupakan kumpulan kolom-kolom Gus Dur, yang beliau tulis setelah kejatuhannya dari panggung kekuasaan. Buku ini menyajikan beberapa kolom Gus Dur sebanyak 25 kolom dari ratusan kolom-kolom beliau. Dalam kumpulan kolom ini Gus Dur melihat sejarah masa lalu, melalui kaca matanya sendiri yang kritis, analitis dan berani hingga membuat orang tergelitik atas spekulasinya terhadap suatu peristiwa sejarah. Sebuah gebrakan baru dan tentunya nekat yang kemungkinan besar membuat orang terkaget-kaget atas tafsir spekulasinya itu. Sehingga  sesuatu yang sudah lama dipercaya sebagai “kebenaran sejarah”, tiba-tiba digoyangkan dengan kehadiran buku ini dan tentunya tidak menutup kemungkinan banyak orang tergelitik untuk kembali melakukan peninjauan ulang sejarah kita.   
            Sejarah memang tidak akan pernah lepas dari kontroversi. Apalagi sejarah yang sudah lama berlalu begitu terbuka terhadap berbagai versi tafsiran yang memang tidak bisa dihindari. Seperti dalam buku Gus Dur ini dibicarakan adalah tentang Raden Wijaya yang menurut Ensiklopedi Indonesia hidup di abad ke-13 (1294-1309), sementara sumber lain menyebutkan tahun 1441-1451. Raja yang disebut sebagai Brawijaya 1, pendiri Majapahit ini, umum disebut sebagai raja Hindu-Budha (bhairawa) yang hidup Pra Walisanga. Namun ada cerita tutur –meminjam istilah Gus Dur- yang menyebutkan bahwa raja ini pernah didakwahi oleh Sunan Ampel yang menurut Ensiklopedi Indonesia wafat 1481, dan sebagai putra Malik Ibrahim al-Maghrib yang sama-sama dengan raja Brawijaya 1 sebagai menantu Prabu  Kiyan, Raja Campa, yang berarti Sunan Ampel keponakan pendiri Majapahit itu sendiri. Jadi, tidak terlalu memaksa, meski terkesan aneh, bila Gus Dur dalam tulisannya ini membuat spekulasi, ada kemungkinan Raden Wijaya itu muslim dan keturunan China bermarga Oei atau Wie. Jadi satu marga dengan Oei Tjen Hien alias Haji Abdul Karim, tokoh Pahlawan Indonesia.   Kemudian bagaimana ia (Gus Dur) berspekulasi mengenai cerita pasukan Cina yang bersama-sama Raden Wijaya mengalahkan pamannya Jayakatwang, yang membunuh mertuanya Kertanegara, belaiu berpendapat bahwa bukan Khubilai Khan dan pasukannya yang menyerang Jayakatwang dibantu Raden Wijaya, mealinkan Raden Wijaya-lah yang di bantu pasukan China dibawah pimpinan Laksamana Ma Chengho yang notabene beragama Islam. Kemudian tentang latar belakang penyerangan tersebut beliau menyatakan bahwa motivasi penyerangan tersebut bisa jadi oleh sebab beberapa faktor: balas dendam, perluasan kekuasaan, soal agama dan lain sebagainya.
            Dalam buku ini, kemudian beliau menyatakan bahwa Sejarah bisa saja terjadi berulang-ulang (dalam arti konteks sejarah), seperti belau mengaitkan kisah Perang Bubat di zaman Hayam Wuruk dengan perkembangan PKB (Partai yang dipimpinnya), mengaitkan kisah Joko Tingkir dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM); dsb.
            Dalam buku ini kita berpeluang untuk lebih mengenal pandangan-pandangan dan sikap Gus Dur mengenai banyak hal, termasuk harapan-harapannya, baik bagi kehidupan dunia terutama bagi bangsa dan negaranya sendiri dan  kehidupan akhirat. Seperti yang sudah kita ketahui bersama Gus Dur begitu konsisten terhadap prinsi[-prinsip yang beliau pegang dan yakini, seperti demokrasi, penegakan hukum, keberpihakan kepada kaum minoritas dan rakyat, kejujuran dan keterbukaan, menjaga solidaritas dan menghargai multikultur bangsa ini. Dalam buku ini pula kita dapat mengetahui atau membaca penegasannya atas itu semua.
            Orang bilang, verbal dan scripta (ucapan dan tulisan) Gus Dur kadang sulit dimengerti, namun pada buku ini tidak terlalu sulit untuk memahami isi yang disampaikan oleh si pengarang. Justru beliau tidak memperlebar permasalahan dalam setiap kolomnya, sehinnga masalah yang diangkat tertuju pada apa yang dimaksud penulis sekaligus hikmah dari apa yang disampaikannya itu.
            Ketika kita berbicara mengenai ke-shohihan – istilah Pesantren untuk ke-validan suatu kisah atau cerita- mungkin kita akan bertanya –tanya metode atau pendekatan apa yang digunakakn Gus Dur hingga beliau bisa berspekulasi yang berani itu?.  Melihat analisis beliau dalam tulisannya ini beliau lebih condong merekonstruksi Sejarah hingga sedemikian rupa dengan Pendekatan Konflik. Pendekatan konflik berangkat dari Teori Maxis yang diperkenalkan oleh Karl Marx yang melihat bahwa mesyarakat telah terstruktur dan terbagi atas kelas-kelas yang berada dalam posisi konflik. Keberlangsungan dan perubahan dilihat oleh pendekatan ini sebagai sebuah proses perjuangan berbagai kelompok untuk menggulingkan kelompok lawannya dalam memperoleh kedudukan politik dan keuntungan materi. Meski dalam tulisan ini beliau –Gus Dur- tidak begitu memerhatikan motivasi dari gejolak sejarah itu. Dilihat dari cakupan subyek kajiannya, pendekatan ini bersifat inklusif karena memasukkan semua kelompok, terutama kelompok masyarakat bawah yang tidak memiliki peran dalam sejarah yang konvensional. Sehingga cerita-cerita tutur rakyat pun beliau pakai sebagai referensinya. Seperti beliau menulis dalam salah satu kolom dalam buku ini.
“Sebaliknya, pengetahuan kita dari sumber-sumber tertulis tentang kerajaan Kutai, Kerajaan Bacan, Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore serta Kerajaan Keilolo hampir tidak ada yang tertulis, tetapi dari cerita-cerita lisan. Meski demikian, dari cerita-cerita lisan itu, yang bercampur antara cerita fiktif dan informasi aktual, harus dapat dibuat rekonstruksi kesejarahan yang konkret.”   
Berbicara Sejarah, ada sejarah yang dipandang sebagai ilmu. Sejarawan Kuntowijoyo memberi ciri-ciri sejarah sebagai ilmu adalah sebagai berikut: 1. Sejarah itu empiris artinya diperoleh berdasarkan penemuan,percobaan dan pengamatan yang telah dilakukan, 2. Sejarah itu memilioki obyek, yaituwaktu dan manusia, 3.  Sejarah itu memiliki teori, 4. sejarah itu memiliki generalisasi, terakhir Sejarah itu memiliki metode.  Jadi dilihat dari sisi sejarah sebagai ilmu apa yang beliau kemukakan dalam buku ini agak kurang ilmiah. Meski begitu, agaknya beliau berusaha meluruskan dengan menawarkan kaca mata baru untuk melihat sejarah atau sekedar menyarankan agar, dalam melihat sejarah, kita tidak a priori terhadap salah satu tafsiran tanpa melakukan perbandingan dengan alternatif-alternatif tafsiran atas beberapa kejadian sejarah. Dalam adagium Pesantren, mempelajari sejarah antara lain agar orang dapat I’tha-u kulli dzi haqqin haqqahu, memberikan hak kepada pemiliknya dengan kata lain membenarkan yang benar, memuji yang patut dipuji dan menyalahkan yang salah, mengecam apa yang patut dikecam untuk kemudian dijadikan pelajaran untuk memperbaiki sikap dan perbuatan.
Kemudian Gus Dur berusaha berpesan lewat buku ini seperti  bersikap objektif: bersikap, tawazun, seimbang, menjunjung tinggi kejujuran, tidak memandang sesuatu hanya dari satu sisi, tidak menggeneralisir, menghormati perbedaan dan seterusnya. Pendek kata, pelajaran-pelajaran yang penting bagi mewujudkan kehidupan berdemokrasi khususnya kepada para penulis sejarah, beliau menekankan perlunya melengkapi sumber-sumber mereka dengan cerita-cerita lisan, disamping sumber tertulis, untuk merekonstruksi  kebenaran sejarah dan melakukan penafsiran tunggal, serta mampu memisahkan fakta sejarah dari mis-tafsir dalam sejarah panjang bangsa kita ini. Dan memberikan pelajaran untuk tidak loyo, dalam membentuk budaya kritis, yang akhir-akhir ini sempat hilang khususnya dikalangan mahasiswa. Mahasiswa agaknya sudah kurang kritis dalam menyikapi persoalan baik internal maupun eksternal kampus. Dari sinilah kita harus meneladani beliau yang tidak pernah kehilangan optimismenya. Sehinggga beliau –semasa hidupnya- tetap konsisten dalam memberikan kritikan-kritikannya terhadap pemerintah,  bukan berarti beliau putus harapan tapi teguh memegang adagium kaidan fiqh yang berbunyi: maa la yudraku kulluh la yutraku julluh (apa yang tak dapat dicapai seluruhnya, jangan ditinggal yang terpentingnya).
Mungkin saat ini kita hanya dapat melihat sosok Gus Dur lewat buah karyanya, tapi semangat kebangsaan dan pluralis beliau akan terus menggema di Indonesia Raya ini. Baiklah anda baca sendiri saja bukunya. Mungkin anda akan menemukan dan mendapatkan yang lain dan berpendapat lain pula. Selamat jalan Gus !. Semoga tenang dalam keharibaan Tuhan.
*) Adalah Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati sekaligus pengagum dan pecinta pemikiran Gus Dur
**) Rabu, 30 Desember 2009 Gus Dur mangkat keharibaan Allah SWT. Sekarang Bulan Desember beberapa Minggu lagi Haul beliau yang ke-2.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Do'a

Adalah Engkau

Yang beri kekuatan

Sekaligus menghujamku

Dengan Qodo dan Qodar-Mu

Tuhan..............

Engkau ku percaya

Menjawab setiap do’a yang ku panjatkan

Ku menyanjung-Mu dengan butiran-butiran dzikirku

Kau tak goyah dengan Qodo-Mu

Ku merengek dengan untaian Wiridku

Kau terlampau tentukan Qadar-Mu

Ku serapi setiap lantunan ayat-ayat-Mu

Kau hanya beri aku harapan

Ku berontak dalam puji-puji doa’ku

Kau hanya menatapku dingin dengan ke-Maha Besaran-Mu

Ku menangis dan memaksamu dalam sujudku

Kau tertawa dengan segala ke-Maha Agungan-Mu

Apa mau-Mu Tuhan?

Aku yakin

Kau jawab “YA”, Kau beri yang aku minta

Kau jawab “TIDAK”, Kau akan berikan yang lebih baik

Kau jawab “TUNGGU” Kau akan beri yang terbaik

Untukku..........

Dengan keterbatasanku

Hanya satu, berikan padaku

“Ridhoilah aku sebagai Hamba-Mu yang terbatas

Wahai ALLAH, Tuhan yang Maha Tak Terbatas”