Kamis, 25 April 2013

Mari Merangkul Alam


Mari Merangkul Alam
Oleh: Ayub Al Ansori *)

“Rangkullah alam seperti engkau memeluk kekasihmu. Kenali alam seperti engkau mengenali anak dan keluargamu sendiri”. (Prof. Dr. Komaruddin Hidayat).
Meski Hari Bumi sudah lewat sehari yang lalu tapi tidak membuat luntur semangat saya untuk menulis catatan tentangnya. Sebetulnya kemarin saya ingin sekali menulis dan berbagi namun kadang waktu tidak memberikan kesempatannya. Saya terinspirasi dari kata-kata Prof. Komar di atas bahwa kita harus merangkul alam seperti kita memeluk kekasih. Bagaimana tidak, bayangkan saja –cukup dibayangkan bagi yang belum menikah- andai kita memeluk kekasih, itulah kasih sayang kita kepadanya. Namun merangkul bukan hanya diartikan memeluk tetapi lebih kepada menjaga dan melindungi. Penuh kasih sayang, menjaga dan melindungi. Saya tidak hendak membahas soal kekasih hati tapi mencoba menjadikan alam sebagai “kekasih hati”. Ya, menjadikan alam (lingkungan, bumi) sebagai kekasih hati bukan musuh dan bukan pula untuk dimusuhi.
Hari Bumi mungkin sudah familiar di telinga kita. Sehingga pada catatan ini saya tidak akan membahas sejarah dari Hari Bumi itu sendiri. Seperti yang sudah ditulis diatas ada tiga poin agar kita benar-benar memperingati Hari Bumi. Pertama, Kasih sayang terhadap alam. Kedua, Membangun dan Melestarikan Lingkungan. Dan Ketiga, Melindungi dan merawat alam. Baik, tiga poin itu yang harus kita lakukan dalam rangka mempringati Hari Bumi. Sehingga Hari Bumi bukan hanya seremonial sehari, tetapi ada sebuah upaya untuk bertindak lebih jauh untuk masa depan bumi yang kita huni ini.
Kasih Sayang Terhadap Alam
Menurut Komaruddin Hidayat bahwa Alam semesta sering disebut kosmos (cosmos, cosmetics, bukannya chaos) karena senantiasa teratur, indah, bahkan memesona, seperti gadis yang selalu berdandan dan menjaga penampilan agar tetap memesona dengan kecantikan alaminya (dalam Bukunya Manusia  250 Wisdoms: Membuka Mata, Menangkap Makna). Alam yang begitu indah dan cantik musti kita kasih sayangi. Sehinggga orang yang mencintai alam dan lingkungannya maka ia telah mencintai dirinya sendiri dan orang lain. Bahkan Allah-pun mencintai orang-orang yang mencintai lingkungan.
….sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” (Al-Baqarah, 1:222)
Maka kemudian, setelah kita mencintai lingkungan maka akan terbangun sikap untuk Membangun dan Melestarikan lingkungan. Poin kedua ini merupakan landasan Hablumminal’alam, hubungan manusia dengan alamnya.  Jadi, membangun dan melestarikan lingkungan merupakan bagian integral yang tak terpisahkan. Setelah terbangun kasih sayang terhadap lingkungan maka kita tidak akan sulit untuk menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, tidak merokok di sembarang tempat, tidak menebang pohon, tidak memaku baligo politik di pohon-pohon, tidak merusak hutan sehingga terjadinya ketimpangan ekosistem dan penyusutan keanekaragaman hayati.
Sebagai bukti kerusakan hutan tahun 2012 di Indonesia mencapai 300 ribu hektare per tahun. Sedang kurun waktu 2006 - 2010 kerusakan hutan mencapai 2 juta hektare per tahunnya (republika.co.id). Menurut Buen M. Purnama (Kepala Badan Planologi Kehutanan), kondisi hutan di Indonesia menunjukkan keadaan yang sangat mengkawatirkan. Hal ini ditandai dengan laju degradasi hutan yang terus melaju di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Dari data citra satelit, kerusakan hutan itu antara lain disebabkan oleh pembukaan lahan baru dan penebangan liar/illegal logging (tempo.com).
Untuk itu kita tidak hanya bermodal kasih sayang, membangun dan melestarikan tetapi juga melindungi dan merawatnya. Yang terkadang sulit bagi kita adalah melindungi dan merawat lingkungan. Sebagai contoh, kita mudah menanam pohon, membunag sampah ke tempat samaph tetapi kita akan kesulitan untuk menyirami dan merawatnya juga sulit untuk membawa sampah-sampah yang penuh di rumah atau kampus ke tempat sampah yang lebih besar untuk di daur ulang atau di bakar.
Saya teringat lirik lagunya Bang Iwan Fals yang berjudul Tanam Siram Tanam:

“Tanam tanam tanam kita menanam
Tanam pohon kehidupan
Kita tanam masa depan
Tanam tanam tanam kita menanam
Jangan lupa disiram
Yang sudah kita tanam”

Lagu di atas mengajak kepada kita untuk membangun dengan cara menanam pohon tetapi jangan lupa untuk kita rawat dan jaga dengan menyiraminya. Sehingga ke depan akan tumbuh pohon-pohon yang kita tanam. Dan dengan sendirinya akan melindungi anak cucu dan masa depannya.
Akhirnya menumbuhkan kasih sayang, membangun, melestarikan dan merawat serta menjaga alam atau lingkungan adalah kewajiban individual kita semua. Dan saat ini sudahkah anda sedekah pohon pada bumi?. Semoga. Wallahua’lam Bisshowabi.

*) Penulis adalah Sekretaris Umum DEMA IAIN Syekh Nurjati Cirebon Periode 2012-2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Do'a

Adalah Engkau

Yang beri kekuatan

Sekaligus menghujamku

Dengan Qodo dan Qodar-Mu

Tuhan..............

Engkau ku percaya

Menjawab setiap do’a yang ku panjatkan

Ku menyanjung-Mu dengan butiran-butiran dzikirku

Kau tak goyah dengan Qodo-Mu

Ku merengek dengan untaian Wiridku

Kau terlampau tentukan Qadar-Mu

Ku serapi setiap lantunan ayat-ayat-Mu

Kau hanya beri aku harapan

Ku berontak dalam puji-puji doa’ku

Kau hanya menatapku dingin dengan ke-Maha Besaran-Mu

Ku menangis dan memaksamu dalam sujudku

Kau tertawa dengan segala ke-Maha Agungan-Mu

Apa mau-Mu Tuhan?

Aku yakin

Kau jawab “YA”, Kau beri yang aku minta

Kau jawab “TIDAK”, Kau akan berikan yang lebih baik

Kau jawab “TUNGGU” Kau akan beri yang terbaik

Untukku..........

Dengan keterbatasanku

Hanya satu, berikan padaku

“Ridhoilah aku sebagai Hamba-Mu yang terbatas

Wahai ALLAH, Tuhan yang Maha Tak Terbatas”