Rabu, 07 Juni 2017

Kita Pancasila!

Oleh: Uub Ayub Al Ansori

Meskipun setiap hari anak-anak dicekoki mars salah satu partai politik yang menguasai separuh dunia pertelevisian kita, saya masih punya keyakinan anak-anak tidak akan pernah melupakan lima sila daripada Pancasila. Meskipun intensitas mendengarkannya hanya seminggu sekali, ketika pembina upacara membacakannya, saat upacara bendera di Senin pagi.

Dengan keras pula anak-anak mengikuti apa yang diucapkan, sambil lamat-lamat menghafalnya di luar kepala:
Satu, Ketuhanan yang Maha Esa,
Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
Tiga, Persatuan Indonesia,
Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan,
Lima, Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Suara lantang-keras tersebut menjadi sebuah harapan masa depan Indonesia. Ya, masa depan Indonesia. Kita menaruh harapan itu pada mereka. Pancasila tidak boleh digeser oleh apapun atas nama sebentuk ideologi. Apalagi ideologi yang mengancam keharmonisan kita dalam berbangsa dan bernegara.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, gagasan membentuk ideologi negara ini sudah demikian santer didiskusikan bahkan diperdebatkan oleh para punggawa2 yang membawa Indonesia pada rel kebebasannya dari kecurangan dan kebiadaban “tukang warung” Belanda -meminjam istilah Tan Malaka- dan infeksi “Sheikerei- nya Jepang.

Bung Karno berangkat dengan ide nasionalisme yang dibalut sosialisme, M. Yamin berangkat dengan gagasan kebangsaan yang dilandasi agama dan kemanusiaan, Soepomo berangkat dengan ide hubungan internasionalnya, KH Wahid Hasyim dan tokoh2 Islam lainnya mengajukan gagasan ketuhanan dan kebudayaan, sementara Hatta mendorong musyawarah mufakat dan keadilan bagi seluruh elemen bangsa.

Hasil dari pergumulan ide dan gagasan para tokoh bangsa yang berbeda latar belakang agama dan pemikiran itu adalah Pancasila. Pancasila menjadi semacam rumah bersama bagi yang mengaku dirinya “Indonesia”. Pondasi dan pilar bagi beragamnya agama, suku, ras, bahasa, dan budaya.

Oleh karena itu, Indonesia tidak akan hancur hanya karena segelintir orang yang mengadu domba Pancasila dengan agama. Begitupun tidak akan tercerai berai hanya karena isu komunisme dan kapitalisme.

Indonesia sudah banyak belajar kepada komunisme ala Uni Soviet dan China, belajar kepada kekhalifahan Turki Utsmani, juga belajar kepada gaya kapitalismenya Belanda dan Amerika.

Pancasila akan terus bertahan, ketika Uni Soviet dan China harus mengakui kegagalan mempertahankan “sosialisme ilmiah” yg ditawarkan Karl Marx dan Mao Zedong dengan gagasan surga di bumi yang bebas dari kapitalisme. Pada kenyataanya Uni Soviet dan China harus merubah haluan dengan menerima jalan “kapitalis” yang semula mereka kecam.

Pancasila juga akan bertahan, ketika kekhilafahan Turki Utsmani gagal menunjukkan kemapanan “Hukum Tuhan harus ditegakkan” justru karena ulah para khalifah dan pejabatnya yang haus kekuasaan dan gemar berfoya-foya. Dan kebijakan2 pemimpinnya yang anti akal dan kemajuan teknologi. Jauh dari apa yang diharapakan Rasulullah Muhammad.

Pancasila akan terus bertahan, ketika Belanda gagal mempertahankan seluruh kekuasaannya di negeri2 bekas jajahannya. Pancasila tidak akan kompromi kepada segala bentuk imperialisme di dunia. Pancasila akan terus bertahan dari derasnya arus kapitalisme gaya baru ala Amerika. Pancasila menolak segala bentuk campur-tangan asing atas-nama sebentuk demokrasi kepura-puraan. Menanam modal boleh, tapi menguasai kekayaan milik negara, bagi Pancasila, menjadi keharaman.

Betul apa yang diteriakkan Bung Karno, dalam pidato gagasannya 1 Juni 1945, “Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara -semua buat semua- satu buat semua, semua buat satu”.

Sejalan dengan cita-cita Pancasila, apa yang dipikirkan Gus Dur menjadi semacam penyegaran, bahwa negara dengan Pancasilanya hendaknya bertugas sebagai “polisi lalulintas- yang mengatur jalannya kehidupan antar ataupun inter umat beragama. Karenanya negara harus bersikap adil dan tidak boleh berpihak pada salah satu agama. Setiap agama boleh saja menafsirkan Pancasila sesuai dengan pemahaman agamanya, karena Pancasila merupakan ideologi terbuka. Selama kita berpedoman pada Pancasila, maka selama itu kita wajib berpartisipasi dalam memaknai Pancasila dalam kehidupan kita.

Akhirnya, tadi pagi Pak Jokowi sudah dengan lantang mengatakan “Saya Pancasila, Anda Pancasila”, maka saatnya kita berteriak “Kita Pancasila”. Wallahu a’lam bisshowab.

Majalengka, 1 Juni 2017
** Tulisan pernah dimuat dalam http://www.ipnu.or.id/kita-kita-pancasila/ (4 Juni 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Do'a

Adalah Engkau

Yang beri kekuatan

Sekaligus menghujamku

Dengan Qodo dan Qodar-Mu

Tuhan..............

Engkau ku percaya

Menjawab setiap do’a yang ku panjatkan

Ku menyanjung-Mu dengan butiran-butiran dzikirku

Kau tak goyah dengan Qodo-Mu

Ku merengek dengan untaian Wiridku

Kau terlampau tentukan Qadar-Mu

Ku serapi setiap lantunan ayat-ayat-Mu

Kau hanya beri aku harapan

Ku berontak dalam puji-puji doa’ku

Kau hanya menatapku dingin dengan ke-Maha Besaran-Mu

Ku menangis dan memaksamu dalam sujudku

Kau tertawa dengan segala ke-Maha Agungan-Mu

Apa mau-Mu Tuhan?

Aku yakin

Kau jawab “YA”, Kau beri yang aku minta

Kau jawab “TIDAK”, Kau akan berikan yang lebih baik

Kau jawab “TUNGGU” Kau akan beri yang terbaik

Untukku..........

Dengan keterbatasanku

Hanya satu, berikan padaku

“Ridhoilah aku sebagai Hamba-Mu yang terbatas

Wahai ALLAH, Tuhan yang Maha Tak Terbatas”