Selasa, 20 Juni 2017

BELAJAR KEPADA JACK SPARROW



Oleh: Uub Ayub Al Ansori
 
Siapa yang tidak kenal Jack Sparrow? Sang pemimpin bajak laut yang diperankan oleh Johnny Depp dalam sequel Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (2003), Dead Man’s Chest (2006), At World’s End (2007), On Stranger Tides (2011), dan yang terbaru (rilis tahun ini) Pirates of the Caribbean: Dead Man Tell No Tales.

Bercerita tentang kehidupan bajak laut, melalui Jack Sparrow, Pirates of the Caribbean memiliki banyak pesan moral. Karakter Jack Sparrow memiliki keunikan tersendiri. Ia yang terlihat bodoh dan konyol namun pintar dan cerdik. Pandai berkomunikasi dan berdiplomasi.

Lewat Jack Sparrow kita akan memasuki dunia dimana kepemimpinan organisasi ditunjukkan oleh karakternya. Sifatnya yang nyeleneh dan apa adanya menjadi ciri dari kepemimpinan yang harusnya teraktualisasi dalam prilaku berorganisasi. Nyeleneh berarti kreatif dan inovatif. Apa adanya berarti sederhana.

Ia -Jack Sparrow- tidak pernah meletakkan dirinya sebagai sosok yang harus dihormati dan selalu benar. Kadang ia pun melakukan kesalahan. Karena kesalahannya dengan memberi tahu letak peti cortez yang penuh dengan emas pada krunya, ia harus dikhianati oleh salah seorang krunya sendiri yaitu Hector Barbossa.

Di sini kita perlu belajar bahwa seorang pemimpin terkadang harus merahasiakan atau setidaknya menunda memberi tahu sesuatu yang dianggap akan memecah belah kebersamaan.

Meskipun begitu, Jack Sparrow adalah sosok yang kuat dengan prinsip, siap berkorban untuk teman, walaupun harus mengorbankan jiwa dan raganya. Ia selalu mentaati kode etik bajak laut dan selalu membantu. Sebut saja ketika ia membantu Will dalam misi membebaskan Elizabeth yang diculik Barbossa. Ia juga kadang membantu Elizabeth dari cengkraman komodor Norrington.

Ia juga sosok yang cerdik. Betapa ketika ia harus berebut peti yg berisi jantung Davy Jones, ia lebih memilih menggunakan otaknya daripada harus bertempur saling membunuh. Dengan kecerdikan dan kepandaiannya menggunakan senjata ia mendapatkan peti tersebut tanpa perlu melukai lawannya.

Bahkan Jack Sparrow dapat dikatakan sebagai antitesa dari kepemimpinan tradisional, di mana pemimpin selalu dihormati dan pengikut harus tunduk serta patuh pada perintah pemimpin. Ia tidak melakukan gaya kepemimpinan ini, ia memberlakukan kepemimpinan partisipatoris dan menganggap krunya sebagai anggota-teman bukan sebagai pengikut atau bawahan.

Bagi Jack Sparrow partisipasi dari anggota bajak laut yang dipimpinnya mutlak dilakukan. Percis apa yang dibilang Durkheim bahwa kita hidup dalam sebuah solidaritas sosial. Dalam hal ini Durkheim menyebutnya “solidaritas mekanik”. Partisipasi anggota dengan kemampuannya masing-masing oleh Jack Sparrow dimanfaatkan betul. Saat bertarung melawan kraken ia percaya akan kemampuan anggotanya. Kepercayaan dari pemimpin akan membentuk solidaritas anggotanya. Kepada kita, Jack Sparrow seolah sedang mengajarkan The division of labor-nya Durkheim.

Ia juga seolah mengajarkan -dalam berinteraksi- harus adanya transformasi sosial. Transformasi sosial yang diwujudkan melalui dialog-dialog emansipatoris sebagai bentuk “etika komunikasi” -meminjam istilah Habermas-. Gaya diplomasi Jack Sparrow dengan lawan-lawannya selalu menggunakan jalan komunikasi dua arah, selalu ada kesepakatan dikedua belah pihak yang saling menguntungkan. Ia tidak menggunakan gaya dialog yang mendominasi yang kadang harus mengancam dan menindas salah satu pihak. Dengan gaya diplomasi semacam inilah Jack Sparrow selalu mendapatkan yang ia inginkan. Baginya adalah kemenangan, meskipun menurut lawannya ia kalah.

Lihat saja ketika ia melakukan kesepakatan dengan Davy Jones. Ia merelakkan dirinya mengabdi selama 100 tahun di kapal Flying Dutchman asalkan ia mendapatkan kembali kapal Black Pearl beserta kru kesayangannya. Di kemudian hari, ia tidak perlu mengabdi pada Davy Jones, karena jauh hari ia sudah memikirkan dan mempersiapkan apa yang harus ia lakukan kedepannya. Di sinilah Jack Sparrow menunjukkan kreativitasnya. Kreativitas selalu melihat dan berangkat ke masa depan.

Dari sosok Jack Sparrow kita belajar menjadi pemimpin ideal yang tidak harus dipaksakan dan dituntut menjadi pemimpin sempurna tanpa kekurangan. Kekurangan seorang pemimpin selalu ditutupi oleh kelebihan para anggotanya. Begitupun sebaliknya. Unsur kesalingan menjadi etika yg tak terbantahkan.

Dan harus dipahami, pemimpin di sini tidak selalu diasosiasikan pada ketua sebuah organisasi atau pemimpin negara. Tapi pemimpin bisa dipahami juga sebagai ketua panitia, koordinator sebuah program, bahkan pemimpin bagi dirinya sendiri. “Setiap kalian adalah pemimpin -bagi dirinya sendiri-” begitu bunyi hadits nabi yang diriwayatkan Bukhori-Muslim. Wallahu a’lam bisshowabi.

** Tulisan pernah dimuat dalam http://www.ipnu.or.id/belajar-kepada-jack-sparrow/ (15 Juni 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Do'a

Adalah Engkau

Yang beri kekuatan

Sekaligus menghujamku

Dengan Qodo dan Qodar-Mu

Tuhan..............

Engkau ku percaya

Menjawab setiap do’a yang ku panjatkan

Ku menyanjung-Mu dengan butiran-butiran dzikirku

Kau tak goyah dengan Qodo-Mu

Ku merengek dengan untaian Wiridku

Kau terlampau tentukan Qadar-Mu

Ku serapi setiap lantunan ayat-ayat-Mu

Kau hanya beri aku harapan

Ku berontak dalam puji-puji doa’ku

Kau hanya menatapku dingin dengan ke-Maha Besaran-Mu

Ku menangis dan memaksamu dalam sujudku

Kau tertawa dengan segala ke-Maha Agungan-Mu

Apa mau-Mu Tuhan?

Aku yakin

Kau jawab “YA”, Kau beri yang aku minta

Kau jawab “TIDAK”, Kau akan berikan yang lebih baik

Kau jawab “TUNGGU” Kau akan beri yang terbaik

Untukku..........

Dengan keterbatasanku

Hanya satu, berikan padaku

“Ridhoilah aku sebagai Hamba-Mu yang terbatas

Wahai ALLAH, Tuhan yang Maha Tak Terbatas”