Sabtu, 01 Juli 2017

LEBARAN

Catatan: Uub Ayub Al Ansori

HARI Raya Idul Fitri 1 Syawal, di Indonesia identik dengan Lebaran. Lebaran memiliki makna yang sangat membekas bagi kaum muslimin. Setelah selama sebulan penuh berpuasa, menahan diri dari segala bentuk godaan, baik rasa haus dan lapar, maupun hawa nafsu yang melahirkan egoisme, dendam, sombong, dan segala bentuk yang merendahkan nilai puasa.

Saat kelas 3 SMP, oleh Pak Syarif, guru Bahasa Indonesia, penulis dikenalkan dengan puisinya Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran. Baitnya hanya sebaris: Bulan di Atas Kuburan. Cuma itu. Tapi gara-gara puisi sebaris, 2 jam pelajaran habis.

“Coba apa maksud puisi tersebut?” tantang Pak Syarif waktu itu. Lantas saja seisi kelas berpikir keras. Lah wong puisinya cuma sebaris, apa yang mau dijelaskan. Iseng-iseng penulis coba menafsirkan bahwa maksud puisi tersebut, saat Lebaran kita kembali suci seperti cahaya bulan dari segala dosa kelam yang diibaratkan gelapnya kuburan di malam hari.

Beda lagi dengan Chairul Anwar, teman penulis, menafsirkan bahwa saat Lebaran tidak jarang kita hidup bermewah-mewahan pakai baju baru dan makan enak, padahal masih ada saudara yang terlampau miskin dan kelaparan. “Itulah gambaran bulan di atas kuburan. Kita seolah berdiri di atas kesengsaraan orang lain” simpul Chairul kritis.

Ada lagi yang menafsirkan bahwa kata bulan dalam puisi tersebut menggambarkan seorang ibu yang selalu memberikan kasih sayang. Sedangkan kuburan artinya ibu yang menyayangi kita sudah meninggal. Pada saat Lebaran, kita rindu ibu yang sudah meninggal seperti digambarkan dengan kuburan. Saat Lebaran kita berharap kehadiran sosok ibu, namun tidak mungkin ia sudah meninggal. Semua digambarkan dalam puisi tersebut, di mana tidak mungkin muncul bulan karena malam Lebaran tidak akan terlihat.

Puisi memang diciptakan untuk ditafsirkan oleh siapapun yang menghayatinya. Pencipta puisi sekalipun tidak berhak menghakimi tafsiran orang atas puisi yang ia ciptakan.

Di luar puisi dan segala tafsirannya itu, realitasnya, tak jarang pula karena alasan rindu kampung halaman dan sekadar untuk saling memaafkan dengan tetangga di kampung, yang dari perantauan sengaja pulang kampung saat Lebaran. Mudik, kata orang Indonesia.

Lebaran dan mudik sudah menjadi sebuah fenomena di Indonesia. Namun fenomena ini bukan sebatas gejala antropologis, tapi sudah menjadi semacam simbolisme fitrawi tentang bagaimana manusia mengalami gerakan kembali ke asal.

Kalau anak selalu ingin cari ibunya, kata Sigmund Freud, psikolog asal Jerman yang terkenal dengan psikoanalisis-nya, maka orang selalu ingin kembali ke kampung, merindukan kampung. Secara spiritual dorongan kembali ke asal itu berarti kembali kepada Allah. Sebab asal dari seluruh muasal adalah Allah. Inna lillaahi wa inna ilaihi rojiun, begitu bunyi kalam-Nya.

Maka, karena kerinduan kampung halaman, saat Lebaran kita kembali bertemu dengan sanak famili. Saling bersilaturahmi, memaafkan, dan tidak lupa mengingat kembali karuhun yang sudah mendahului dengan menziarahinya. Mendoakannya agar selamat di akhirat dan berdoa kepada Allah agar kita pun selamat.

Barangkali istilah Lebaran muncul menandai akhirnya bulan Ramadan dan mengawali datangnya Syawal yang memiliki keterkaitan dengan istilah Idul Fitri. Hari kembali ke fitrah atau asal. Bebas dari segala dosa atau lebur-lebar. Lebur-lebar dari segala dosa. Maka pantas saat Lebaran kita saling memohon maaf satu sama lain.

Saling memaafkan tentu tidak harus saat Lebaran. Bahkan harus setiap saat. Namun terasa tidak afdhol bila saat merayakan Idul Fitri tidak saling memaafkan. Maka jangan heran dan bosan untuk meminta maaf, serta menerima dan membalas ucapan maaf saat Lebaran.

Namun demikian, kadang “maaf” tidak pernah bisa dipisahkan dari ingatan akan kesalahan. Pertanyaannya, mungkinkah ingatan bisa kekal? Atau “maaf” tidak pernah bisa dipisahkan dari penyesalan. Tetapi, mungkinkah ada maaf tanpa syarat?

Saat Lebaran Idul Fitri semua menemukan jawabannya. Maaf yang tidak perlu memaksa si peminta maaf mengingat kesalahannya. Maaf yang tidak perlu disertai syarat penyesalan terlebih dahulu. Maaf yang keluar dari kesadaran si peminta dan si pemberi. Saling memaafkan tanpa harus mengingat kesalahan masing-masing. Maaf dan memaafkan tanpa harus adanya penyesalan terlebih dahulu. Sehingga maaf dan memaafkan menjadi bagian dari proses bersama dimana manusia hidup dengan cinta.

Mudah-mudahan dengan saling memaafkan dosa-dosa akibat kesalahan kita menjadi lebur. Menjadikan lebarnya pintu maaf. Tentunya menjadikan mudik yang penuh rindu dan rasa ingin bertemu keluarga menjadi lebih bermanfaat dan penuh cinta. Meski kata Ibnu Arabi bahwa cinta tak punya definisi, tapi minimalnya dengan saling memaafkan dan rindu akan shilaturahmi, maka ia tidak harus dibayar dengan ingatan akan kesalahan dan tidak pula perlu ada syarat.

Akhirnya, Selamat Lebaran Idul Fitri. Mari kita sama-sama saling memaafkan atas segala khilaf dan dosa. Saling bersilaturahmi, bersilaturindu, bersilaturasa, dan bersilatucinta. Wallahu a’lam bisshowab. (*)

** Tulisan pernah dimuat dalam http://cirebonplus.com/berita/lebaran-memaafkan-dan-dimaafkan-yang-tanpa-paksaan/ (30 Juni 2017) dengan judul Lebaran, Memaafkan dan Dimaafkan yang Tanpa Paksaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Do'a

Adalah Engkau

Yang beri kekuatan

Sekaligus menghujamku

Dengan Qodo dan Qodar-Mu

Tuhan..............

Engkau ku percaya

Menjawab setiap do’a yang ku panjatkan

Ku menyanjung-Mu dengan butiran-butiran dzikirku

Kau tak goyah dengan Qodo-Mu

Ku merengek dengan untaian Wiridku

Kau terlampau tentukan Qadar-Mu

Ku serapi setiap lantunan ayat-ayat-Mu

Kau hanya beri aku harapan

Ku berontak dalam puji-puji doa’ku

Kau hanya menatapku dingin dengan ke-Maha Besaran-Mu

Ku menangis dan memaksamu dalam sujudku

Kau tertawa dengan segala ke-Maha Agungan-Mu

Apa mau-Mu Tuhan?

Aku yakin

Kau jawab “YA”, Kau beri yang aku minta

Kau jawab “TIDAK”, Kau akan berikan yang lebih baik

Kau jawab “TUNGGU” Kau akan beri yang terbaik

Untukku..........

Dengan keterbatasanku

Hanya satu, berikan padaku

“Ridhoilah aku sebagai Hamba-Mu yang terbatas

Wahai ALLAH, Tuhan yang Maha Tak Terbatas”