Selasa, 25 Juli 2017

Puasa Sebagai Sarana Pendidikan Jasmani-Rohani **

Oleh: Uub Ayub Al Ansori

Bulan Ramadan telah tiba. Bulan dimana segenap orang Islam bersuka-cita di dalam melaksanakan kewajiban agama yaitu puasa. Besar-kecil, tua-muda, laki-laki dan perempuan, semuanya larut di dalam suasana religious yang tercipta ketika bulan sabit/hilal muncul menandai permulaan Ramadan atau ketika Bapak Menteri Agama mengumumkannya. Umat Islam di seluruh penjuru dunia menyongsong Ramadan dengan penuh bahagia dalam suasana takzim.

Lepas dari kontroversi soal penentuan awal Ramadan, sebagai santri, penulis taklid saja kepada Syekh Salim bin Sumair Al Hadrami mushonif kitab Safinatun Najah. Saat kecil, kita, mungkin pernah mengaji kitab Safinah, dimana terdapat pembahasan Puasa dengan Bab tersendiri. Sedikit penulis kutip, “Faslun. Yajibu Shaumu Ramadana Bi-Ahadi Umuri Khomsatin. Ahaduha Bi-Kamali Sya’bana Tsalatsina Yauman. Wa Tsaniha Bi-Ru’yati Al Hilali Fi Haqqi Man Ro-ahu Wa In Kana Fasiqon. Wa Tsalitsuha Bi-Tsubutihi Bi Haqqi Man Lam Yarohu Bi “Adli Syahadatin…. Dst,”.

Kurang lebih maknanya begini, “Pasal (kata ini kalau ditarkib panjang-red). Diwajibkannya Puasa Ramadan dengan salah satu sebab yang lima. Pertama, sempurnanya bulan Sya’ban yaitu tiga puluh hari. Kedua, melihat bulan/hilal bagi seseorang yang benar-benar melihatnya, meski ia orang fasik. Ketiga, melihat hilal dapat ditetapkan bagi orang yang tidak melihat hilal dengan sebab adanya persaksian orang adil dan dapat dipercaya bahwa ia melihat hilal… dst.

Jadi kalau salah satu sebabnya sudah mencukupi maka kita sudah diwajibkan puasa pada saat itu juga. Di Indonesia, sebagai warga Negara yang baik mesti manut pada pemerintah yang dianggap adil dalam menentukan Bulan Ramadan lewat rukyatul hilal di seluruh penjuru Indonesia melalui tim rukyat dan hisab Kemenag.

Jika Menteri Agama sudah mengumumkan di televise secara live bahwa hasil sidang itsbat menyatakan hilal tampak, maka kita berbondong-bondong ke Masjid atau Tajug untuk berjama’ah Tarweh. Lantas paginya kita sahur bersama keluarga. Sungguh saat itu kita benar-benar telah memasuki bulan puasa.

Puasa Sarana Pendidikan Jasmani dan Rohani

Puasa merupakan perintah Allah untuk kita lakanakan, sebagaimana yang juga dilaksanakan umat-umat Islam terdahulu sebelum Nabi Muhammad mendapat risalah kenabian. Tujuannya agar manusia bertakwa kepada Allah. Menjadi orang saleh secara personal dan social. Kesalehan personal lebih pada ibadah yang bersifat ritual seperti shalat, sedangkan kesalehan social dicirikan denganrelasi kasih saying kepada orang lain.

Selama Ramadan kita melaksanakan puasa dari mulai waktu imsak hingga Maghrib.ketika itu kita diharuskan menahan lapar dan haus dengan tidak makan dan minum. Dengan puaa kita lebih merasakan arti seteguk air. Dengan puasa kita menjadi tahu manfaat sepiring nasi bagi perut yang lapar. Dengan puasa kita dapat merasakan bagaimana haus dan laparnya si miskin setiap harinya. Dengan puasa juga kita menjadi mengerti arti dari kesabaran, menahan nafsu, dan menahan rasa ego.

Prof. KH Said Aqil Siradj memberikan wejangan kepada kita bahwa puasa tidak hanya berurusan dengan kenyang dan lapar. Jika ditelusuri lebih jauh, tulis Kiai Said, kata sha-wa-ma yang berarti menahan juga merujuk pada aktivitas batiniah. Artinya, puasa juga menahan hati dari berbagai hal negative yang bisa merusak jiwa seperti iri, dengki, riya, sombong, ujub, dan penyakit hati lainnya. Karena itu, dalam puasa, seorang Muslim dilatih untuk menyinergikan antara dua eksistensi yang berbeda, yaitu jasmaniah dan rohaniah. Sebab, di dalam rohani kita terdapat ide-ide kebaikan yang nanti diejawantahkan oleh jasmani dengan sikap hidup keseharian.

Sementara itu, Cak Nur –sapaan Nurcholis Madjid- dalam bukunya Dialog Ramadan menulis begini “Ibadah puasa merupakan bagian dari pembentuk jiwa keagamaan seorang Muslim, dan menjadi sarana pendidikannya di waktu kecil dan seumur hidup”.

Betapa tidak, saat kecil, kita tidak mau ketinggalan di hamper seluruh kegiatan Ramdan, dari acara sahur sampai berbuka puasa. Lebih-lebih di saat tarawih. Kita merasa senang bias berkumpul dengan teman-teman di Masjid atau Tajug. Tarawih bersama sambil “mengganggu” satu sama lain, saling senggol kanan-kiri, bisik sana-bisik sini. Para orang tua ada yang memahami tingkah kita waktu itu, tapi ada juga yang tidak tahan untuk tidak membentak atau menghardik. Biasanya kita tidak peduli alias bodo amat. Kalaupun terpaksa, kita akan pindah ke pelataran di luar Masjid/Tajug. Dan ini berarti “ancaman” bahwa salat tarawih akan mulai sepi dari teriakan ‘Aamiin” dari kita sebagai anak-anak, yang diakui atau tidak teriakan ini ikut “menyemangati” suasana salat tarawih yang panjang sebanyak 20 rakaat atau 8 rakaat plus witir 3.

Lalu diakui atau tidak justru kita –sebagai anak-anak- lah yang meramaikan masjid/tajug sebulan penuhy. Lihat saja para jama’ah saat tarwih hari ketujuh mulai menghilang satu persatu. Mang Jaja sudah tidak kelihatan lagi –mungkin sedang mengejar target bekerja sampai malam untuk persiapan lebaran, sehingga tidak sempat salat berjama’ah. Pak Eme dan Abah Udin sudah tidak tampak –mungkin mereka lelah karena sudah tua. Yang masih tetap eksis ya anak-anak yang suka bikin rebut, yang karena keributannya itu masjid/tajug menjadi tetap “hidup”.

Pada akhirnya bulan puasa menjadi penuh hikmah bagi kita umat Islam. Sebagai Muslim, kita tanpa perlu dipaksa-paksa biasanya muncul sendiri kesadarannya bahwa sebagai manusia beragama kita punya kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan, baik kepada Allah maupun sesama manusia. Saat puasa, yang malas shalat, misalnya barangkali agak mikir-mikir, sehingga rajin shalat. Kita pasti pernah mendengar “tidak ada gunanya puasa kalau tidak shalat” atau “puasa tanpa shalat pahalanya tidak dapat”. Saat bulan puasa juga kita merasakan berbagi dengan si miskin melalui zakat. Padahal member si miskin bias kita lakukan setiap hari melalui sedekah. Kita juga semakin rajin membaca ayat suci Al-Qur’an. Lembar demi lembar, one day one juz, Al Qur’an kit abaca hingga khatam dalam sebulan. Padahal pada bulan-bulan lainnya, Al Qur’an hanya menjadi pajangan di lemari.

Mudah-mudahan puasa tahun ini lebih berkah dari tahun-tahun yang lalu. Lebih giat dan semangat. Pastinya puasa kita memberikan dampak yang baik bagi jasmani dan rohani kita. Sehingga kita benar-benar mendapatkan apa yang kanjeng Nabi Muhammad sebut sebagai “Farhataani”, yaitu farhatun ‘inda fitrih, wa farhatun ‘inda liqoi’ robbih. Amin. Wallhu A’lam Bisshowabi
   
Majalengka, 26 Mei 2017


** Tulisan pernah dimuat dalam kolom Opini HU Kabar Cirebon Hal. 12 edisi Senin 29 Mei 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Do'a

Adalah Engkau

Yang beri kekuatan

Sekaligus menghujamku

Dengan Qodo dan Qodar-Mu

Tuhan..............

Engkau ku percaya

Menjawab setiap do’a yang ku panjatkan

Ku menyanjung-Mu dengan butiran-butiran dzikirku

Kau tak goyah dengan Qodo-Mu

Ku merengek dengan untaian Wiridku

Kau terlampau tentukan Qadar-Mu

Ku serapi setiap lantunan ayat-ayat-Mu

Kau hanya beri aku harapan

Ku berontak dalam puji-puji doa’ku

Kau hanya menatapku dingin dengan ke-Maha Besaran-Mu

Ku menangis dan memaksamu dalam sujudku

Kau tertawa dengan segala ke-Maha Agungan-Mu

Apa mau-Mu Tuhan?

Aku yakin

Kau jawab “YA”, Kau beri yang aku minta

Kau jawab “TIDAK”, Kau akan berikan yang lebih baik

Kau jawab “TUNGGU” Kau akan beri yang terbaik

Untukku..........

Dengan keterbatasanku

Hanya satu, berikan padaku

“Ridhoilah aku sebagai Hamba-Mu yang terbatas

Wahai ALLAH, Tuhan yang Maha Tak Terbatas”