Selasa, 25 Juli 2017

Ramadan, Fathu Makkah, dan Pesan Perdamainan **

Oleh: Uub Ayub Al Ansori

Tepat tanggal 10 Ramadan 14 abad silam, Rasulullah Muhammad SAW beserta para sahabatnya memasuki Makkah dengan tanpa darah menetes sedikit pun. Meskipun di pihak kafir Quraisy sangat ketakutan akan terjadinya konflik berdarah.

Kekhawatiran mereka cukup beralasan. Bagaimanapun, menurut Husain Haikal dalam bukunya “Sejarah Hidup Muhammad”, Makkah dikepung melalui empat penjuru yang terdiri dari arah bawah lembah dipimpin Khalid bin Walid, arah atas bukit Kada’ dan Al Hajun dipimpin Zubair bin Awwam, arah tengah lembah dipimpin Abu Ubaidah Al Jarrah, dan dari arah barat dipimpin Sa’ad bin Ubadah.
Alasan lainnya adalah tradisi perang di Arab. Di mana semua laki-laki akan dieksekusi mati; perempuan dan anak-anak akan dijadikan budak. Mengingat persitiwa ini kait-kelindan dengan dikhianatinya perjanjian Hudaibiyah oleh kafir Quraisy yang merugikan Nabi dan para sahabatnya. Maka wajar Nabi melakukan pembalasan dengan menyerang Makkah.

Namun kekhawatiran-kekhawatiran itu dijawab lain oleh Nabi dan para sahabatnya. Alih-alih balas dendam, Nabi malah memilih jalan kasih sayang, Jalan perdamaian. Meski Makkah sudah dikepung dari berbagai arah, sedikitpun Nabi tidak menginstruksikan menyerang apalagi membunuh. Nabi lebih memilih berunding daripada pertumpahan darah.

Setelah berunding dengan Abu Sufyan, salah seorang pemimpin Quraisy, Nabi mengatakan siapa saja yang memasuki pekarangan Ka’bah, ia aman. Siapa saja yang masuk ke rumahnya sendiri dan menutup pintu, ia aman. Bahkan untuk menghormati Abu Sufyan sebagai pemimpin Quraisy, Nabi menambahkan, siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman.

Setelah itu, Nabi memimpin pasukannya dan meminta para pemimpin pasukan dari empat penjuru menyatakan “Al Yaumu Al Marhamah (Hari ini adalah Hari Kasih Sayang)”. Namun Sa’ad bin ‘Ubadah, salah seorang pemimpin pasukan, berteriak “Al Yaumu Al Malhamah (Hari ini adalah Hari Pertumpahan Darah)”. Sontak semua kaget dan merasa ketakutan terutama kaum kafir Quraisy.

Menurut Prof KH Nasaruddin Umar, saat itu Abu Sufyan melakukan protes. Namun Nabi segera menjawab, “Tidak begitu maksudnya. Sahabat itu cadel. Tidak bisa menyebut huruf “ra”, sehingga dibaca “lam”.

Sedangkan menurut Husain Haikal, saat itu Nabi langsung menegur Sa’ad bin Ubadah dan mengambil bendera pasukan dari tangan Sa’ad. Kemudian diserahkan kepada Qais –anaknya Sa’ad- yang pembawaannya lebih tenang daripada ayahnya.

Dalam suasana khidmatnya bulan Ramadan, Nabi memasuki Makkah beserta para sahabatnya menuju K’bah. Kemudian melakukan thawaf.

Bilal bin Rabbah yang ikut bersama rombongan lantas melantunkan Adzan yang begitu merdu. Meski saat itu Bilal sempat di-bully karena ia berkulit hitam dan seorang budak. Namun Nabi tidak membiarkan rasisme terjadi di antara umatnya. Lantas Nabi berkhutbah di hadapan para sahabat dan sebagaian masyarakat Makkah yang memasuki pekarang Ka’bah –sekarang Masjidil Haram-. Khutbah yang penuh dengan cinta kasih, tanpa hoax apalagi ujaran kebencian. Khutbah yang menentramkan semua jiwa yang mendengarkannya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat 13 surat Al Hujurat di atas menjadi pembuka khutbah Nabi sebagai jawaban atas ejekan kepada Bilal. “Ayat modern” –meminjam istilah Prof Nadirsyah Hosen- ini telah jauh mendahului teori-teori social dan teori-teori psikologi kalangan ilmuwan dan filsuf abad modern.

Masih dalam khutbahnya, Nabi memberikan amnesty kepada seluruh penduduk Makkah. Tanpa memandang agama, suku, dan status sosialnya.

Fad-habuu, wa antum thulaquu (Pergilah, sesungguhnya kalian telah bebas)” ujar Nabi.

Peristiwa bersejarah ini dikenal dengan Fathu Makkah atau Pembebasan Makkah. Fathu Makkah menjadi saksi penyelesaian konflik paling manusiawi. Nabi tidak memaksakan ajaran agama kepada masyarakat Makkah. Tidak ada pembunuhan. Beliau justru menawarkan jalan damai. Perdamaian dijunjung tinggi. Dendam dibalas kasih sayang. Bahkan pembesar Quraisy pun mendapat pemaafan dari Nabi.

“Muhammad sangat mengedepankan prinsip mencegah tindak kekerasan di antara umat, karena Islam yang berarti berserah di hadapan Tuhan diambil dari kata Salam yang memiliki arti perdamaian,” ungkap Karen Armstrong saat menggambarkan peristiwa Fathu Makkah dalam bukunya “Muhammad Sang Nabi”.

Fathu Makkah menjadi rekonsiliasi paling fenomenal yang melahirkan keutuhan dan kedamaian. Dunia mengetahui dan menyaksikan kearifan dari seorang Nabi Muhammad SAW.

Kita harus berkaca pada Fathu Makkah. Sebagai muslim yang mayoritas di Indonesia dengan beragam akan suku, agama, ras, dan budaya mestilah meneladani sifat dan sikap Nabi. Segala persoalan yang berhubungan dengan SARA tidak lantas kemudian menjadi konflik yang berkepanjangan. Sudah saatnya kita saling memahami satu sama lain. Sisi kemanusiaan harus dikedepankan. Perbedaan tidak lantas menjadi persaingan dan permusuhan. Perbedaan justru harus menjadi kekuatan. Kekuatan untuk melawan segala bentuk terror dan ancaman. Dengan demikian akan menjadi sebuah kekuatan bagi Indonesia yang damai penuh kasih sayang. Wallhu A’lam Bisshowabi.

Majalengka, 4 Juni 2017


** Tulisan pernah dimuat dalam kolom “Tausiyah Ramadan” Radar Cirebon hal. 1 (19) Edisi Senin, 5 Juni 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Do'a

Adalah Engkau

Yang beri kekuatan

Sekaligus menghujamku

Dengan Qodo dan Qodar-Mu

Tuhan..............

Engkau ku percaya

Menjawab setiap do’a yang ku panjatkan

Ku menyanjung-Mu dengan butiran-butiran dzikirku

Kau tak goyah dengan Qodo-Mu

Ku merengek dengan untaian Wiridku

Kau terlampau tentukan Qadar-Mu

Ku serapi setiap lantunan ayat-ayat-Mu

Kau hanya beri aku harapan

Ku berontak dalam puji-puji doa’ku

Kau hanya menatapku dingin dengan ke-Maha Besaran-Mu

Ku menangis dan memaksamu dalam sujudku

Kau tertawa dengan segala ke-Maha Agungan-Mu

Apa mau-Mu Tuhan?

Aku yakin

Kau jawab “YA”, Kau beri yang aku minta

Kau jawab “TIDAK”, Kau akan berikan yang lebih baik

Kau jawab “TUNGGU” Kau akan beri yang terbaik

Untukku..........

Dengan keterbatasanku

Hanya satu, berikan padaku

“Ridhoilah aku sebagai Hamba-Mu yang terbatas

Wahai ALLAH, Tuhan yang Maha Tak Terbatas”