Selasa, 25 Juli 2017

Soal Menghormati yang (Tidak) Puasa **

Oleh: Uub Ayub Al Ansori

Setiap bulan Ramadan datang bukannya tenang dan khusuk, malah seringkali kita meributkan soal menghormati dan tidaknya orang yang berpuasa. Begitupun sebaliknya untuk yang tidak berpuasa. Apa pentingnya menghormati orang yang berpuasa? Apa pula pentingnya menghormati orang yang tidak berpuasa?

Ternyata keharusan menghormati puasa sudah ada sejak dulu. Sejak paruh 1919. Menghormati puasa zaman pendudukan Belanda dan Jepang diwujudkan dalam bentuk meliburkan sekolah selama bulan puasa. Alih-alih menghormati, ternyata Belanda dan Jepang ada maunya.

Nagi Belanda, berurusan dengan Islam sama saja berurusan dengan perdagangan dan perekonomian. “Seyogyanya meenghormati pesantren-pesantren di Jawa, pada umumnya terletak di tengah lautan kebun tebu, agar supaya santri Buntet di Cirebon atau Tebuireng di Jombang tidak mengobrak-abrik pabriksambil menggulung kain sarung hingga lutut. Gula, yang merupakan gabus tempat kerajaan Belanda mengapung, tidak boleh terancam,” begitu tulis Mahbub Djunaidi dalam esainya yang berjudul “Bulan Puasa Anak-anak Sekolah”.

Lain Belanda, lain pula dengan Jepang. Saat pendudukan Jepang, menghormati muslim yang sedang puasa, lebih pada motif kekuasaan secara politik agar tidak begitu banyak konflik dengan Islam. “pura-pura bersungguh hati demi Asia Timur Raya.” tulis mahbub jeli.

Kepura-puraan memang merugikan. Maka pasca kemerdekaan, Mahbub, tidak ingin lagi libur puasa dijadikan ajang seolah-olah menghormati yang sedang puasa. Ia mengingatkan, “Karena itu, kamu harus belajar keras, tak terkecuali di bulan puasa. Satu hari terlewat berarti rugi dua puluh lima tahun”.

Kepura-puraan dengan dalih menghormati yang sedang puasa itu dijawab sudah oleh Gus Dur. Saat jadi Presiden, beliau meliburkan sekolah selama Ramadan penuh. Tidak ada motif dan tidak ada kepentingan. Apalagi dengan dali menghormati yang sedang puasa.

Dengan dalih menghormati orang yang sedang puasa tidak jarang merugikan orang lain. Pemaksaan penutupan warung makan, pemaksaan tidak boleh makan-minum di depan orang yang sedang puasa. Semua serba tidak boleh, demi menghormati yang sedang puasa. Padahal meski ada yang makan-minum di depan kita yang berpuasa, tidak menjadikan kita lantas ikut menikmati. Anggap saja itu semua godaan bagi yang sedang puasa. Semakin banyak godaan dan kita tahan akan godaan itu, maka iman kita dianggap kuat. Tahan godaan, iman kuat.

Nah, demi menghormati orang yang tidak puasa tidak jarang kita juga terkadang –maaf- lebay. Alih-alih bersikap toleransi kita diharuskan menghormati yang tidak berpuasa. Padahal yang tidak berpuasa pun tidak menuntut untuk dihormati. Justru sebaliknya, yang tidak berpuasa merasa perlu menghargai yang sedang puasa.

Contoh kecil jika memang harus saling menghormati. Bukankah dengan menutup warung pakai tikar agar yang makan-minum tidak terlihat oleh yang sedang puasa merupakan cara menghormati mereka kepada yang berpuasa. Bukankah membiarkan warung buka measki harus pakai tirai agar orang-orang yang tidak berpuasa bias menikmati makan-minum, juga merupakan cara menghormati mereka yang puasa kepada yang tidak puasa.

Sebetulnya semua ini terjadi begitu saja, berdasarkan kesadaran diri masing-masing, tanpa perlu dikomando, apalagi diajari dengan ungkapan-ungkapan suci agama. Karena sebagai warga Indonesia yang baik dan ini sudah menjadi watak dari sejak zaman nenek moyang bahwa kita diajarkan untuk saling menghargai.

Puasa Hanya untuk Allah SWT

Kita pastilah ingat sebuah hadits qudsi yang menyatakan bahwa puasa hanya milik Allah SWT.

…… Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia (orang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku …. (HR. Bukhori-Muslim).

Dapat kita pahami bahwa puasa merupakan ibadah khusus antara manusia dengan Tuhannya. Yang pantas dihormati hanyalah Allah SWT karena puasa milik-Nya. Dengan puasa seharusnya kita terhindar dari riya, ujub, dan dengki/sombong. Namun alih-alih ingin dihormati terkadang kita merasa sombong. Merasa bahwa diri kitalah yang paling benar dan harus dihormati lantaran sedang menjalankan tugas suci puasa.

Kita seakan lupa bahwa puasa semestinya menghindarkan diri dari hal-hal negative. Seperti hadits di atas bahwa puasa menghindarkan kita dari syahwat. Syahwat dari merasa benar sendiri, merasa paling mulia, dan merasa paling dimuliakan. Padahal hanya Allah yang tahu seberapa jauh kita ikhlas berpuasa untuk-Nya. Karena itu hanya Allah lah yang pantas memuliakan dan dimuliakan.

Saat puasa hanya Allah lah yang tahu mereka yang puasa atau tidak. Kita juga tidak tahu seseorang tidak puasa bukan karena memang ia tidak ingin puasa. Islam memberikan hak privilege bagi orang tertentu untuk boleh tidak puasa, yaitu orang sakit, musafir –orang yang sedang dalam perjalanan jauh-, anakanak, perempuan yang sedang menyusui atau hamil, dan orang jompo. Tentunya dengan konsekuensi mengganti/qodo puasa di lain waktu atau dengan membayar fidyah.

Hal ini, mestinya dipahami oleh kita para pemeluk agama, apalagi ormas yang membawa symbol agama. Allah SWT menghendaki kemudahan bagi umatnya, dan tidak menghendaki kesukaran. Karena puasa adalah milik-Nya, maka tanpa kita melakukan sebentuk pemaksaan untuk menghormati yang sedang puasa atau sebentuk rasa toleransi untuk menghormati yang tidak puasa, Allah SWT Maha Mengetahui kita yang benar-benar menjalankan ibadah puasa karena-Nya.

Lantas masih perlukah menghormati itu dieksplisitkan? Ah, rasa-rasanya tidak perlu.

“Jika saya harus menjawab, saya akan mengatakan: saya takut dihormati,” tulis Goenawan Mohammad tempo hari dalam capingnya yang ia beri judull “Puasa”.


Majalengka, 28 Mei 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Do'a

Adalah Engkau

Yang beri kekuatan

Sekaligus menghujamku

Dengan Qodo dan Qodar-Mu

Tuhan..............

Engkau ku percaya

Menjawab setiap do’a yang ku panjatkan

Ku menyanjung-Mu dengan butiran-butiran dzikirku

Kau tak goyah dengan Qodo-Mu

Ku merengek dengan untaian Wiridku

Kau terlampau tentukan Qadar-Mu

Ku serapi setiap lantunan ayat-ayat-Mu

Kau hanya beri aku harapan

Ku berontak dalam puji-puji doa’ku

Kau hanya menatapku dingin dengan ke-Maha Besaran-Mu

Ku menangis dan memaksamu dalam sujudku

Kau tertawa dengan segala ke-Maha Agungan-Mu

Apa mau-Mu Tuhan?

Aku yakin

Kau jawab “YA”, Kau beri yang aku minta

Kau jawab “TIDAK”, Kau akan berikan yang lebih baik

Kau jawab “TUNGGU” Kau akan beri yang terbaik

Untukku..........

Dengan keterbatasanku

Hanya satu, berikan padaku

“Ridhoilah aku sebagai Hamba-Mu yang terbatas

Wahai ALLAH, Tuhan yang Maha Tak Terbatas”